Bebekbetina's Blog











{Mei 7, 2010}   CMV dalam kehamilan

CMV ada yang menyerang hewan, ada pula yang  menyerang manusia. HCMV (selanjutnya disebut CMV saja) merupakan human herpesvirus 5, anggota family dari 8 virus herpes manusia, subgrup beta herpesvirus. Cytomegalo berarti sel yang besar. Sel yang terinfeksi akan membesar lebih dari atau sama dengan 2x sel yang tidak terinfeksi. Cytomegalovirus merupakan parasit yang hidup di dalam sel atau intrasel yang sepenuhnya tergantung pada sel inang untuk perbanyakan diri (replikasi).

Infeksi CMV umumnya berjalan simtomatik pada penderita dengan kompetensi system imun tubuh yang baik, namun apabila individu berada dalam kondisi imun belum matang (misalnya janin, bayi baru lahir), tertekan (memakai obat immunosupressan), atau lemah (misalnya menderita kanker, human immunodeficiency virus, dan lain-lain), dapat menimbulkan gejala klinik yang nyata dan berat. Setelah infeksi primer atau infeksi pertama kali, CMV hidup menetap (dormant) dalam gel tubuh inang. Infeksi berjalan laten, namun reaktivasi, replikasi, reinfeksi sering terjadi. Penyebaran dalam tubuh atau endogen dapat terjadi melalui sirkulasi darah dan dari gel ke gel.

Infeksi CMV bersifat sistemik, menyerang berbagai gel organ tubuh dan dapat meningkatkan proses inflamasi, memacu respons autoimun, terlibat dalam patogenesis aterosklerosis, memacu timbulnya dan mempercepat progresivitas keganasan, menyebabkan infertilitas.

Infeksi CMV melibatkan banyak interaksi antara molekul -molekul yang dimiliki oleh CMV dengan molekul inang yang sudah ada ataupun yang terbentuk karena pacuan CMV. Respons imun tubuh sangat berperan untuk meniadakan virus, yang diperantarai gel seperti natural killer atau gel NK, sel limfosit T CD8+ atau T sitotoksik atau T sitolitik, gel T CD4+ yang mengaktifkan makrofag, dan yang diperantarai antibodi seperti IgG dan IgM. Eliminasi ditujukan terhadap protein struktural CMV yang bersifat imunogenik. Mekanisme penghindaran CMV terhadap respons imun tubuh juga terjadi. Infeksi CMV seringkali berjalan asimtomatik atau tanpa gejala, oleh karena itu deteksi secara laboratorik sangat diperlukan. Bahan pemeriksaan atau spesimen yang digunakan ialah serum darah, urin, cairan tubuh lain. Pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan ialah menetapkan kadar imunoglobulin (Ig) atau antibodi terhadap antigen virus CMV, yaitu IgM, IgG, IgG avidity. Imunoglobulin yang terdeteksi secara laboratorik ini, bukan merupakan antibodi yang mampu meneutralkan antigen protein CMV struktural, sehingga hanya dapat dipakai untuk menunjang diagnosis atau menggambarkan respons tubuh terhadap infeksi CMV. IgM untuk mendeteksi infeksi primer akut yang terbentuk dalam 3-5 hari pasca infeksi, juga untuk mendeteksi infeksi fetus atau kongenital.

Penyebaran

Tidak ada vektor yang menjadi perantara. Penularan transmisi atau penularan. Transmisi dari satu individu ke individu lain dapat terjadi melalui berbagai cara. Transmisi intrauterus terjadi karena virus yang beredar dalam sirkulasi (viremia) ibu menular ke janin. Kejadian transmisi seperti ini dijumpai pada kurang lebih 0,5 – 1% dari kasus yang mengalami reinfeksi atau rekuren.6 Viremia pada ibu hamil dapat menyebar melalui aliran darah (per hematogen), menembus plasenta, menuju ke fetus baik pada infeksi primer eksogen maupun pada reaktivasi, infeksi rekuren endogen,2,10 yang mungkin akan menimbulkan risiko tinggi untuk kerusakan jaringan prenatal yang serius. Risiko pada infeksi primer lebih tinggi daripada reaktivasi atau ibu terinfeksi sebelum konsepsi. Infeksi  transplasenta juga dapat terjadi, karena sel terinfeksi membawa virus dengan muatan tinggi. Transmisi tersebut dapat terjadi setiap saat sepanjang kehamilan, namun infeksi yang terjadi sampai 16 minggu pertama, akan menimbulkan penyakit yang lebih berat.

Transmisi perinatal terjadi karena sekresi melalui saluran genital atau air susu ibu. Kira-kira 2% – 28% wanita hamil dengan CMV seropositif, melepaskan CMV ke sekret serviks uteri dan vagina saat melahirkan, sehingga menyebabkan kurang lebih 50% kejadian infeksi perinatal. Transmisi melalui air susu ibu dapat terjadi, karena 9% – 88% wanita seropositif yang mengalami reaktivasi biasanya melepaskan CMV ke ASI. Kurang lebih 50% – 60% bayi yang menyusu terinfeksi asimtomatik, bila selama kehidupan fetus telah cukup memperoleh imunitas IgG spesifik dari ibu melalui plasenta.8 Kondisi yang jelek mungkin dijumpai pada neonatus yang lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah.

Transmisi postnatal dapat terjadi melalui saliva, mainan anak-anak misalnya karena terkontaminasi dari vomitus. Transmisi juga dapat terjadi melalui kontak langsung atau tidak langsung, kontak seksual, transfusi darah, transplantasi organ.

Penyebaran endogen di dalam diri individu dapat terjadi dari sel ke sel melalui desmosom yaitu celah di antara 2 membran atau dinding sel yang berdekatan. Di samping itu, apabila terdapat pelepasan virus dari sel terinfeksi, maka virus akan beredar dalam sirkulasi (viremia), dan terjadi penyebaran per hematogen ke sel lain yang berjauhan, atau dari satu organ ke organ lainnya.

Pada infeksi primer, IgG mun.cul kira-kira 2 minggu kemudian. Pada reaktivasi, reinfeksi, IgG muncul lebih cepat disertai kadar yang lebih tinggi dan kekuatan mengikat yang lebih baik (avidity), sehingga serokonversi dan IgG aviditydipakai untuk membedakan infeksi baru atau lama. Metoda pemeriksaan laboratorium yang digunakan ialah ELISA (enzyme linked immunosorbent assay) atau ELFA (enzyme linked immunofuorescent assay).

CMV adalah virus DNA dan merupakan kelompok dari famili virus Herpes sehingga memiliki kemampuan latensi. Virus ditularkan melalui berbagai cara a.l tranfusi darah, transplantasi organ , kontak seksual, air susu , air seni dan air liur ; transplansental atau kontak langsung saat janin melewati jalan lahir pada persalinan pervaginam.

Diagnosis

Virus dapat di isolasi dari biakan urine atau biakan berbagai cairan atau jaringan tubuh lain. Tes serologis mungkin terjadi peningkatan IgM yang mencapai kadar puncak 3 – 6 bulan pasca infeksi dan bertahan sampai 1– 2 tahun kemudian. IgG meningkat secara cepat dan bertahan seumur hidup

Wanita dengan seropositif CMV sebelum kehamilan. Dilaporkan bahwa hanya 1,2 % sero-positif akan menyebabkan transmisi ke janin sedangkan yang sero-negatif sebelum kehamilan transmisi terjadi lebih besar (12,9%). Hal ini mengakibatkan dugaan bahwa peningkatan imunitas ibu sebelum hamil, dapat melindungi janin dari kelainan kongenital CMV sebesar 90%. Artinya imunitas spesifik ibu yang telah mengalami infeksi CMV lebih tinggi daripada ibu  yang  baru terinfeksi selama hamil.

Dari hasil survey didapat bahwa, 50-70% wanita hamil dengan sero-positif sebelum hamil, transmisi infeksi terhadap janin (infeksi vertikal) hanya 1%, virulensinya lebih rendah dibanding  wanita sero-negatif.

Adanya antibodi IgG CMV menyatakan bahwa pernah terjadi infeksi CMV, Kadar IgG akan tampak dalam darah 7-14 hari setelah terjadinya infeksi. Gambaran serologi ini akan menetap. IgG CMV mungkin meningkat kadarnya pada keadaan imunitas menurun seperti pada kasus transplantasi organ, AIDS.

IgM akan tampak pada hari ke 3-4 setelah gejala timbul, IgM akan tetap berada dalam sirkulasi ibu sampai beberapa bulan. Infeksi kongenital dapat di diagnosis dengan menemukan IgM janin di dalam darah tali pusat (kordosentesis) atau cairan tuban (amniosentesis).

Masalah dari interpretasi tes serologi adalah :

  1. Kenaikan IgM yang membutuhkan waktu lama menyulitkan penentuan saat infeksi yang tepat
  2. Angka negatif palsu yang mencapai 20%
  3. Adanya IgG tidak menyingkirkan kemungkinan adanya infeksi yang persisten

Dampak terhadap Kehamilan

CMV adalah infeksi virus kongenital yang utama di US dan mengenai 0.5 – 2.5 % bayi lahir hidup. Infeksi plasenta dapat berlangsung dengan atau tanpa infeksi terhadap janin dan infeksi pada neonatus dapat terjadi pada ibu yang asimptomatik.

Resiko transmisi dari ibu ke janin konstan sepanjang masa kehamilan dengan angka sebesar 40 – 50%.

10 – 20% neonatus yang terinfeksi memperlihatkan gejala-gejala :

1. Hidrop non imune

2. PJT simetrik

3. Korioretinitis

4. Mikrosepali

5. Kalsifikasi serebral

6. Hepatosplenomegali

7. hidrosepalus

80 – 90% tidak menunjukkan gejala namun kelak dikemudian hari dapat menunjukkan gejala :

1. Retardasi mental

2. Gangguan visual

3. Gangguan perkembangan psikomotor

Seberapa besar kerusakan janin tidak tergantung saat kapan infeksi menyerang janin.

CMV rekuren berkaitan dengan penurunan resiko janin dengan angka penularan ibu ke janin sebesar 0.15% – 1%

Tidak ada terapi yang efektif untuk cytomegalovirus dalam kehamilan.

Pencegahan meliputi penjagaan kebersihan pribadi, mencegah tranfusi darah

Usaha untuk membantu diagnosa infeksi CMV pada janin adalah dengan melakukan :

  1. Ultrasonografi untuk identifikasi PJT simetri, hidrop, asites atau kelainan sistem saraf pusat
  2. Pemeriksaan biakan cytomegalovirus dalam cairan amnion

Belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi CMV.

Penyakit infeksi virus CMV, seperti juga penyakit virus lainnya adalah penyakit ”self limited disease”. Pengobatan ditujukan kepada perbaikan nutrisi, respirasi dan hemostasis. Pengobatan anti virus masih belum jelas hasilnya. Dicoba cara pemberian zat  immunoglobulin in utero. Bagi ibu yang mengalami gangguan imunitas dikembangkan obat; ganciclovir, cidofovir, formivirsen, foscarnet (virustatic).

Pemberian vaksin merupakan harapan dimasa datang.

Pemberian Ganciclovir pada dewasa: dosis induksi 5 mg/kg dua kali sehari, intra vena selama 2 minggu, dipertahankan dengan dosis 5 mg/kg/hari. Pemberian oral untuk mempertahankan dosis dalam sirkulasi darah adalah 1 gram 3 kali sehari, perlu diperhatikan efek samping yaitu gangguaan fungsi ginjal.

Pemberian Ganciclovir 12mg/kg/hr pada bayi dapat mengurangi progresivitas ketulian dalam 2 tahun pertama kehidupannya.

Pencegahan :

Belum didapatkan obat yang baik untuk mencegah terjadinya infeksi CMV pada ibu dan janin yang dikandungnya.

Dapat diusahakan :

  1. Memberikan penerangan cara hidup yang higienis, menjauhi kontak dengan cairan yang dikeluarkan oleh penderita CMV : urine, saliva, semen dlsb.
  2. Bagi ibu, terutama yang melahirkan bayi prematur untuk berhati-hati dalam memberikan ASI. Bayi prematur imunitasnya masih rendah. ASI yang mengandung virus CMV, didinginkan sampai –20oC selama beberapa hari dapat menghilangkan virus. Cara lain pasteurisasi cepat.
  3. Hati-hati pada transfusi, darah harus dari donor sero-negatif.
  4. Vaksinasi mempunyai harapan dimasa datang

Seorang calon ibu, hendaknya menunda untuk hamil apabila secara laboratorik dinyatakan terinfeksi CMV primer akut. Bayi baru lahir dari ibu yang menderita infeksi CMV, perlu dideteksi IgM anti-CMV untuk mengetahui infeksi kongenital. Higiene dan sanitasi lingkungan perlu diperhatikan untuk mencegah penularan atau penyebaran. Infeksi CMV tidak menimbulkan keluhan apabila individu berada dalam kondisi kompetensi imun yang baik, oleh karena itu pola hidup sehat dengan makan minum yang sehat dan bergizi, sangat diperlukan agar sistem imun dapat bekerja dengan baik untuk meniadakan atau membasmi CMV. Istirahat yang cukup juga sangat diperlukan, karena istirahat termasuk ”pengobatan terbaik” untuk infeksi virus pada umumnya.

dari berbagai sumber

Iklan


{Maret 17, 2010}   kontrasepsi

Kontrasepsi mantap pria atau vasektomi merupakan salah satu metode kontrasepsi yang sangat efektif bagi pria, tidak memiliki efek samping klinis karena bersifat non hormonal, pengaruhnya jangka lama dengan sekali tindakan saja. Akan tetapi, Komplikasi dapat terjadi saat prosedur berlangsung atau beberapa saat setelah tindakan. Komplikasi selam prosedur dapat berupa komplikasi akibat reaksi akibat penggunaan lidokain atau manipulasi berlebihan terhadap anyaman pembuluh darah di sekitar vas deferens.

Berikut ini akan dibahas mengenai komplikasi-komplikasi vasektomi, yaitu:

  1. Komplikasi Minor
  2. Ecchymosis, terjadi pada 2-65%.

Penyebabnya : pecahnya pembuluh darah kecil subkutan sehingga terjadi perembesan darah dibawah kulit. Tidak memerlukan terapi, dan akan hilang sendiri dalam 1-2 minggu post operarif.

  1. Pembengkakan (0,8-67%)
  2. Rasa sakit/rasa tidak enak.

Terapi untuk butir b dan c :

1)      Kompres es

2)      Analgetika/NSAID

3)      Penunjang skrotum

  1. Komplikasi Mayor :
  2. Hematoma
    1. Insiden < 1 %
    2. Terjadi pembentukan massa bekuan darah dalam kantung skrotum yang berasal dari pembuluh darah yang pecah.
    3. Pencegahan : hemostasis yang baik selam operasi.
    4. Pengobatan :

1)      Hematoma kecil : kompres es, istirahat beberapa hari.

2)      Hematoma besar : membuka kembali skrotum, ikat pembuluh darah dilakukan drainase.

  1. Infeksi
    1. Jarang terjadi, hanya kira-kira pada kurang adari 2 %
    2. Infeksi dapat terjadi pada beberapa tempat :

1)      Insisi

2)      Vas deverens

3)      Epididimis, menyebabkan epididimitis

4)      Testis, menyebabkan orchitis

  1. Sperm Granuloma
    1. Granuloma adalah satu abses non bacterial, yang terdiri dari spermatozoa, sel-sel epitel dan limfosit, dan merupakan suatu respon inflamatoir terhadap spermatozoa yang merembes ke dalam jaringan sekitarnya.
    2. Insiden sperma granuloma : 0,1-3%
    3. Penyebab dari timbulnya sperma granuloma : merembesnya atau bocornya spermatozoa ke dalam jaringan sekitarnya, yang disebabkan oleh :

1)      Absorbs dari benang jahitan sebelum terbentuk jaringan parut.

2)      Oklusi yang tidak adekuat dari vas deverens selama operasi.

3)      Ikatan jahitan terlalu keras sehingga memotong vas deverens.

4)      Tekanan yang meninggi di belakang ujung vas deverens yang dipotong.

5)      Infeksi vas deverens sehinnga timbul nekrosisi jaringan

  1. Diagnosa sperma granuloma

Rasa sakit yang tiba-tiba dan pembengkakan pada lokasi operasi setelah 1-2 minggu, sedangkan sebelumnya sama sekali asimtomatik.

  1. Terapi sperma granuloma

1)      Umumnya granuloma yang kecil akan menghilang sendiri, atau dapat dilakukan kompres es, istirahat dan pemberian NSAID.

2)      Bila granuloma besar dan sangat sakit, harus dilakukan eksisi. Hanya saja, eksisi 1 granuloma tidak menjamin bahwa tidak akan terjadi suatu granuloma lainnya.

  1. Efek samping sperma granuloma

1)      Bisa menyebabkan rekanalisasi vas deverens, karena terbentuknya saluran-saluran di dalam granulomanya.

2)      Granuloma epididimal dapat mencegah keberhasilan reversal/pemulihan kembali kontap pria.

  1. Komplikasi lain-lain

Sangat jarang terjadi (<1%):

1)      Perlekatan vaskutaneous.

2)      Hydrocele

3)      Fistulavaskutaneous

  1. Efek Sistemik dari Kontap Pria

1)      Tidak ditemukan efek sistemik dari prosedur kontap pria.

Fungsi kelenjar prostat, seminal vesicles dan kelenjar-kelenjar uretra tidak mengalami perubahan sebagai akibat dari kontap pria, karena fungsi mereka ditentukan oleh kadar androgen di dalam darah (yang tidak berubah karena kontap pria).

2)      Tidak ditemukan efek kontap pria terhadap timbulnya penyakit jantung, karsinoma, penyakit paru-paru, saraf, gastrointestinal, dan endokrin.

  1. Efek Kontap Pria pada Fungsi Testis dan Hormon Pria

1)      Kontap pria tidak menimbulkan efek pada fungsi testis dan spermatogenesis berlangsung seperti biasa.

2)      Juga tidak ditemukan perubahan dalam hormon gonadotropin hipofisis (FSH-LH) atau testosterone, yang semuanya masih berada dalam batas normal.

  1. Antibodi Spermatozoa

1)      Pada kurang lebih ½ – 2/3 dari pria yang menjalani kontap pria, timbul antibodi terhadap spermatozoa, yang merupakan suatu respon dari system imunologi tubuh. Antibodi tersebut menghambat aktivitas spermatozoa dengan berbagai cara, tetapi sampai saat ini belum ada bukti-bukti bahwa antibodi tersebut menimbulkan efek buruk atau menambah resiko terkena penyakit.

2)      Spermatozoa umumnya terisolir dari system imunologi oleh sel-sel barier. Bila barier tersebut hilang, spermatozoa akan merembes ke jaringan sekitarnya, kemudian antigen yang ada di spermatozoa memicu pembentukan antibody. Karena spermatozoa tidak/belum dibentuk sampai pubertas, maka  tubuh menganggap spermatozoa yang diproduksi kemudian hari sebagai suatu benda asing.

3)      Secara umum terdapat dua macam reaksi imunologi:

  1. Humoral imunitas

Timbul antibody 5-10 hari setelah masuknya benda asing ke dalam tubuh.

  1. Cell-mediated immunitas

Merupakan ssuatu hipersensitifitas yang segera atau yang tertunda, yang melibatkan sel-sel khusus yang disebut T-lympocytes, yang akan ikut serta dalam reaksi dalam antigen.

  1. Efek Psikologis dari Kontap Pria

1)      Prosedur kontap pria hanya menimbulkan efek lokal yaitu oklusi vas deferens, dan tidak akan menimbulkan perubahan fungsi psiko seksual yang normal.

2)      Problem psikologis terjadi pada kurang dari 1-5% dari akseptor kontap pria, dengan keluhan rasa takut yang timbul setelah kontap pria, yang meliputi:

  1. Rasa takut “trauma” tubuh

a)      Berkurangnya kekuatan fisik tubuh

b)      Rasa lelah

c)      Insomnia, sakit kepala, depresi

d)     Berat badan menurun

  1. Rasa takut “trauma” seks

a)      Libido menurun

b)      Dispareunia

c)      Tetapi sampai sekarang belum ada bukti ilmiah bahwa kontap pria mempengaruhi kemampuan seksual. Bahkan di negara maju, dilaporkan pada 44-73,1% pria yang menjalani kontap pria didapatkan adanya peningkatan gairah seksual, yang dihubungkan dengan hilangnya rasa cemas akan menghamili pasangannya.

d)     Umur mungkin merupakan factor penting dalam kehidupan/ tingkah laku seksual, dengan meningkatnya umur keinginan seksualn dan frekuensi senggama akan berkurang

  1. Rasa takut “trauma” keluarga

a)      Rasa takut akan kehilangan anak, terutama di daerah/ negara dengan mortalitas anak yang tinggi

b)      Beberapa peneliti menemukan bahwa pasangan suami-istri yang kehilangan anak, menunjukkan kecemasan (anxietas) yang lebih tinggi setelah tindakan kontap pria.

c)      Dari pihak istri, umumnya tidak ada perubahan dalam kenikmatan seksual bahkan pada sebagian istri gairah seksualnya bertambah, arena tidak kuatir lagi akan hamil.

  1. Rasa takut “trauma” moral

Adanya konflik yang berhubungan dengan agama, kebudayaan, atau ketakutan bahwa pra yang telah menjalani kontap-pria akan melakukan perbuatan-perbuatan serong/penyelewengan.

  1. Rasa takut “trauma” kelompok atau golongan

Pengaruh, kekuasaan atau kedudukan yang menurun di dalam kehidupan masyarakat yang menyangkut kelompok/golongan keagamaan, sosio-ekonomi atau ethnic.

  1. Reversal/Pemulihan Kembali Kontap Pria= Vaso-Vasotomi

Alasan-alasan untuk reversal/pemulihan kontap pria umumnya adalah :

1)      Menikah lagi setelah bercerai atau kematian istri

2)      Kematian seorang anak atau lebih

3)      Keinginan untuk memiliki anak lagi

4)      Problem psikologis yag disebabkan oleh tindakan kontap pria

  1. Pembedahan untuk reversal

1)      Bedah konvensional = bedah makro

  1. Hanya memakai alat-alat pembesar sederhana seperti kaca pembesar atau loupe (membesarkan 2-4 kali)
  2. Angka kehamilan tertinggi pernah dilaporkan adalah sebesar 85%, umumnya 35-65%
  3. Bila penyambungan vas deferens tidak tepat, dapat menyebabkan terjadinya kebocoran spermatozoa dan obstruksi, sehingga jumlah spermatozoa menurun pada analisa spermatozoa
  4. Alat stent/splint yang dipakai dapat merusak lapisan-lapisan vas deferen
  5. Alat stent/splint meninggalkan suatu lubang didalam vas deferen, sehingga bakteri dapat masuk dan spermatozoa dapat mengalir keluar
  6. Waktu operasi yang diperlukan kira-kira setengah dari waktu operasi bedah mikro, sehingga mengurangi anestesi dan biaya
  7. Menggunakan peralatan bedah standar

2)      Bedah mikro

  1. Memakai mikroskop operasi yang dapat membesarkan sampai 16-40 kali.
  2. Angka kehamilan tertinggi yang pernah dilaporkan adalah sebesar 79%, umumnya antara 45-75%.
  3. Penyambungan mukosa vas deferen dapat lebih tepat
  4. Memungkinkan eksplorasi dari bagian vas deferen dan epididimis yang berkelok-kelok untuk menemukan spermatozoa dalam cairan semen.
  5. Lebih memudahkan penyambungan kembali vas deferen dan epididimis, bila diperlukan.
  6. Memerlukan latihan yang ekstensif dan sering.
  7. Biaya mahal dan perawatan peralatan lebih sukar.
  1. Teknik Vas Anastomosis = Vaso-Vasostomi
    1. End – to – end
    2. Side – to – side
    3. Vas – to – vas
    4. Vas – to – eididimis
  1. Efek samping Vaso-Vasostomi
    1. Rasa tidak enak/sakit
    2. Hematoma pada <10%
    3. Efek dari anestesi pada <10%
  1. Perawatan post Operatif Vaso-Vasostomi
    1. Istirahat 3-7 hari
    2. Memakai suatu penunjang skrotum selama 2-4 minggu
    3. Abstinens dari senggama selama 10 hari – 4 minggu
    4. Analisa semen setelah 3 minggu, sampai 3 bulan post operatif
  1. Efektifitas Vaso-vasostomi
    1. Keberhasilan anatomis : 67-100% (ditemukan kembali spermatozoa dalam ajakulat)
    2. Keberhasilan fungsional : 16-85% (terjadinya kehamilan pada istri)
  1. Problem pada Vaso-vasostomi
    1. Sebab-sebab kegagalan anatomis :

1)      Spermatik granuloma

2)      Obstruksi di dalam bagian proksimal vas deferen atau epididimis

3)      Tidak tepatnya penyambungan lumen pada vas deferen bagian proksimal dan distal

4)      Kontap pia dilakukan pada bagian vas deferen yang berkelok-kelok, dan tidak pada bagian vas deferen yang lurus

5)      Segmen vas deferen yang dibuang terlalu besar/panjang

  1. Kemungkinan sebab-sebab kegagalan fungsional :

1)      Perubahan-perubahan epididimis dan testis

2)      Trauma pada system saraf simpatis

3)      Kualitas semen pra kontap pria yang rendah

4)      Fertilitas istri yang rendah

5)      Sperma aglutinating dan imubilizing antibodist

Disamping tindakan reversal melalui pembedahan, sebenarnya masih ada 2 cara pendekatan lain untuk menjamin reversibilitas kontap pria yaitu:

  1. Penyimpanan semen yang dibekukan (frozen semen storage)
  2. Vas occlusive defices.

sumber:

Hartanto, Hanafi, dr., 1992,  Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta



{Maret 17, 2010}   ASI EKSKLUSIF

LAKTASI (ASI EKSKLUSIF)

  1. Pengertian Air Susu Ibu

Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya

ASI Ekslusif adalah perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sampai umur 6 bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain kecuali sirup obat..

ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.

  1. Proses Laktasi

Produksi Asi diawali dari peristiwa penurunan kadar hormone esterogen. Penurunan kadar esterogen ini mendorong naiknya kadar prolaktin. Naiknya kadar prolaktin, mendorong produksi ASI. Maka dengan naiknya kadar prolaktin tersebut, mulailah aktivitas produksi berlangsung.

Ketika bayi mulai menyusu pada ibunya, aktivitas bayi menyusu pada mammae ini menstimulasi terjadinya produksi prolaktin yang terus menerus dan berkesinambungan.

Sekresi ASI dipengaruhi oleh neuro-endokrin. Rangsangan sentuhan pada payudara yakni ketika bayi mengisap puting susu menyebabkan terjadinya produksi oksitosin. Oksitosin merangsang terjadinya kontraksi sel-sel mioepitel (refleks ’let down’ atau pelepasan ASI.

Emosi ibu juga memberikan pengaruh fisiologis pelepasan ASI. Misalnya rasa takut, lelah, malu, stres dapat menghambat pelepasan ASI keluar payudara. Pada tahap awal emosi ibu tidak berpengaruh terhadap pelepasan ASI tetapi setelah beberapa hari bayi mengisap ASI.

Hisapan bayi pada mammae ibu dapat merangsang atau memicu pelepasan ASI dari alveolus mammae melalui duktus kesinus laktiferus. Secara fisiologis, hisapan bayi pada mammae ibu, merangsang produksi oksitosin oleh kelenjar hipofisis posterior. Oksitosin memasuki darah dan menyebabkan kontraksi sel-sel khusus (sel-sel mioepitel) yang menelilingi alveolus mammae dan duktus laktiferus. Kontraksi sel-sel khusus ini mendorong ASI keluar dari alveolus melalui duktus laktiferus dan di sana ASI tersebut akan disimpan. Pada saat bayi menghisap puting payudara, ASI di dalam sinus tertekan keluar, ke mulut bayi. Gerakan ASI dan sinus ini dinamakan ’let down’, atau pelepasan. Di kemudian hari atau pada akhirnya, ’let down’ tersebut dapat dipicu tanpa rangsangan hisapan. Mendengar bayi menagis ataupun memikirkan kondisi bayinya saja pun dapat terjadi ’let down’ tersebut.

Laktasi atau pengeluaran susu serta penyaluran keluar payudara sewaktu diisap adalah fungsi payudara. Hal ini dapat diuraikan dalam dua tahap:

  1. Sekresi air susu (terjadinya di dalam jaringan payudara)
  2. Pengeluaran dari payudara (Pearce, C. E, 2006, copy right 1973)

Pada kehamilan minggu ke 16 mulai terjadi sedikit sekresi yang membuat saluran dalam buah dada tetap terbuka dan siap untuk fungsinya. Sesudah bayi lahir dan buah dada si ibu keluar secreat yang berupa cairan bening yang disebut kolostrum kaya akan protein, dan dikeluarkan selama 2-3 hari pertama, kemudian air susu mengalir lebih lancer dan menjadi air susu yang sempurna. Sebuah hormone dan lobus anterior kelenjar hipofisis, yaitu prolaktin, adalah penting dalam merangsang pembentukan air susu. Keluarnya sekresi ini dikendalikan oleh hormone hipofisis bagian anterior dan kelenjar tiroid.

Seorang ibu yang menyusui perlu mendapat rangsangan, terutama pada bayinya yang pertama, supaya susu keluar secara normal. Keluarnya tidak saja tergantung dan isapansi bayi, tetapi juga dari mekanisme di dalam mammae yang dengan berkontraksi memeras air susu keluar dari alveoli dan masuk ke dalam saluran.

  1. Kebaikan ASI dan Menyusui

ASI sebagai makanan bayi mempunyai kebaikan/sifat sebagai berikut:

  1. ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi.
  2. ASI mengadung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan. Didalam usus laktosa akan dipermentasi menjadi asam laktat. yang bermanfaat untuk:
    1. Menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen.
    2. Merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan asam organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin.
    3. Memudahkan terjadinya pengendapan calsium-cassienat.
    4. Memudahkan penyerahan herbagai jenis mineral, seperti calsium, magnesium.
  3. ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti: Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus, Lactoferrin.
  4. ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi.
  5. Proses pemberian ASI dapat menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayi.
  6. Selain memberikan kebaikan bagi bayi, menyusui dengan bayi juga dapat memberikan keuntungan bagi ibu, yaitu:
    1. Suatu rasa kebanggaan dari ibu, bahwa ia dapat memberikan “kehidupan” kepada bayinya.
    2. Hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi perkembangan psikis dan emosional antara ibu dan anak.
    3. Dengan menyusui bagi rahim ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian keukuran sebelum hamil
    4. Mempercepat berhentinya pendarahan post partum.
    5. Dengan menyusui maka kesuburan ibu menjadi berkurang untuk beberpa bulan (menjarangkan kehamilan).
    6. Mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa yang akan datang.
  1. Produksi ASI

Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh isapan mulut bayi pada putting susu ibu. Gerakan tersebut merangsang kelenjar Pictuitary Anterior untuk memproduksi sejumlah prolaktin, hormon utama yang mengandalkan pengeluaran Air Susu. Proses pengeluaran air susu juga tergantung pada Let Down Replex, dimana hisapan putting dapat merangsang kelenjar Pictuitary Posterior untuk menghasilkan hormon oksitolesin, yang dapat merangsang serabutotot halus di dalam dinding saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar

Kegagalan dalam perkembangan payudara secara fisiologis untuk menampung air susu sangat jarang terjadi. Payudara secara fisiologis merupakan tenunan aktif yang tersusun seperti pohon tumbuh di dalam putting dengan cabang yang menjadi ranting semakin mengecil.

Susu diproduksi pada akhir ranting dan mengalir kedalam cabang-cabang besar menuju saluran ke dalam putting. Secara visual payudara dapat di gambarkan sebagai setangkai buah anggur, mewakili tenunan kelenjar yang mengsekresi dimana setiap selnya mampu memproduksi susu, bila sel-sel Myoepithelial di dalam dinding alveoli berkontraksi, anggur tersebut terpencet dan mengeluarkan susu ke dalam ranting yang mengalir ke cabang-cabang lebih besar, yang secara perlahan-lahan bertemu di dalam aerola dan membentuk sinus lactiterous. Pusat dari areda (bagan yang berpigmen) adalah putingnya, yang tidak kaku letaknya dan dengan mudah dihisap (masuk kedalam) mulut bayi.

Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

a. Colostrum

  1. Merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak.
  2. Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa laktasi.
  3. Komposisi colostrum dari hari ke hari berubah.
  4. Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI Mature.
  5. Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
  6. Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature, tetapi berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein pada colostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi.
  7. Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
  8. Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature.
  9. Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml colostrum.

10.  Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.

11.  Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak.

12.  PH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature.

13.  Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI Mature.

14.  Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi krang sempurna, yangakan menambah kadar antobodi pada bayi.

15.  Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.

b. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)

  1. Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature.
  2. Disekresi dari hari ke 4 – hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke 3 ke 5.
  3. Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi.
  4. Volume semakin meningkat.

c. Air Susu Mature (matang)

  1. ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
  2. Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yangs ehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertamabagi bayi.
  3. ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untu bayi.
  4. Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat, riboflaum dan karotin.
  5. Tidak menggumpal bila dipanaskan.
  6. Volume: 300 – 850 ml/24 jam
  7. Terdapat anti microbaterial factor, yaitu:
    1. Antibodi terhadap bakteri dan virus.
    2. Cell (phagocyle, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T)
    3. Enzim (lysozime, lactoperoxidese)
    4. Protein (lactoferrin, B12 Ginding Protein)
    5. Faktor resisten terhadap staphylococcus.
    6. Complecement ( C3 dan C4)
  1. Volume Produksi ASI

Pada minggu bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI. Apabila tidak ada kelainan, pada hari pertama sejak bayi lahir akan dapat menghasilkan 50-100 ml sehari dari jumlah ini akan terus bertambah sehingga mencapai sekitar 400-450 ml pada waktu bayi mencapai usia minggu kedua. Jumlah tersebut dapat dicapai dengan menysusui bayinya selama 4 – 6 bulan pertama. Karena itu selama kurun waktu tersebut ASI mampu memenuhi lkebutuhan gizinya. Setelah 6 bulan volume pengeluaran air susu menjadi menurun dan sejak saat itu kebutuhan gizi tidak lagi dapat dipenuhi oleh ASI saja dan harus mendapat makanan tambahan.

Dalam keadaan produksi ASI telah normal, volume susu terbanyak yang dapat diperoleh adalah 5 menit pertama. Penyedotan/ penghisapan oleh bayi biasanya berlangsung selama 15-25 menit.

Selama beberapa bulan berikutnya bayi yang sehat akan mengkonsumsi sekitar 700-800 ml ASI setiap hari. Akan tetapi penelitian yang dilakukan pada beberpa kelompok ibu dan bayi menunjukkan terdapatnya variasi dimana seseorang bayi dapat mengkonsumsi sampai 1 liter selama 24 jam, meskipun kedua anak tersebut tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Konsumsi ASI selama satu kali menyusui atau jumlahnya selama sehari penuh sangat bervariasi. Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan volume air susu yang diproduksi, meskipun umumnya payudara yang berukuran sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak berubah selama masa kehamilan hanya memproduksi sejumlah kecil ASI

Pada ibu-ibu yang mengalami kekurangan gizi, jumlah air susunya dalam sehari sekitar 500-700 ml selama 6 bulan pertama, 400-600 ml dalam 6 bulan kedua, dan 300-500 ml dalamtahun kedua kehidupan bayi. Penyebabnya mungkin dapat ditelusuri pada masa kehamilan dimana jumlah pangan yang dikonsumsi ibu tidak memungkinkan untuk menyimpan cadangan lemak dalam tubuhnya, yang kelak akan digunakan sebagai salah satu komponen ASI dan sebagai sumber energi selama menyusui. Akan tetapi kadang-kadang terjadi bahwa peningkatan jumlah produksi konsumsi pangan ibu tidak selalu dapat meningkatkan produksi air susunya. Produksi ASI dari ibu yang kekurangan gizi seringkali menurun jumlahnya dan akhirnya berhenti, dengan akibat yang fatal bagi bayi yang masih sangat muda. Di daerah-daerah dimana ibu-ibu sangat kekurangan gizi seringkali ditemukan “merasmus” pada bayi-bayi berumur sampai enam bulan yang hanya diberi ASI.

  1. Komposisi ASI

Kandungan colostrum berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum mengandung berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum dan hanya sekitar 1% dalam air susu mature, lebih banyak mengandung imunoglobin A (Iga), laktoterin dan sel-sel darah putih, terhadap, yang kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi, terhadap serangan penyakit (Infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa, lebih banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn).

Berdasrkan sumber dari food and Nutrition Boart, National research Council Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi Kolostrum ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml seperti tertera pada tabel berikut:

Tabel 1

Komposisi Kolostrum, ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml

Zat-zat Gizi Kolostrum ASI Susu Sapi
Energi (K Cal)

Protein (g)

– Kasein/whey

– Kasein (mg)

– Laktamil bumil (mg)

– Laktoferin (mg)

– Ig A (mg)

Laktosa (g)

Lemak (g)

Vitamin

– Vit A (mg)

– Vit B1 (mg)

– Vit B2 (mg)

– Asam Nikotinmik (mg)

– Vit B6 (mg)

– Asam pantotenik

– Biotin

– Asam folat

– Vit B12

– Vit C

– Vit D (mg)

– Vit Z

– Vit K (mg)

Mineral

– Kalsium (mg)

– Klorin (mg)

– Tembaga (mg)

– Zat besi (ferrum) (mg)

– Magnesium (mg)

– Fosfor (mg)

– Potassium (mg)

– Sodium (mg)

– Sulfur (mg)

58

2,3

140

218

330

364

5,3

2,9

151

1,9

30

75

183

0,06

0,05

0,05

5,9

1,5

39

85

40

70

4

14

74

48

22

70

0,9

1 : 1,5

187

161

167

142

7,3

4,2

75

14

40

160

12-15

246

0,6

0,1

0,1

5

0,04

0,25

1,5

35

40

40

100

4

15

57

15

14

65

3,4

1 : 1,2

4,8

3,9

41

43

145

82

64

340

2,8

,13

0,6

1,1

0,02

0,07

6

130

108

14

70

12

120

145

58

30

Perbandingan komposisi kolostrum, ASI dan susu sapi dapat dilihat pada tabel 1. Dimana susu sapi mengandung sekitar tiga kali lebih banyak protein daripada ASI. Sebagian besar dari protein tersebut adalah kasein, dan sisanya berupa protein whey yang larut. Kandungan kasein yang tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung bayi. Bila bayi diberi susu sapi, sedangkan ASI walaupun mengandung lebih sedikit total protein, namun bagian protein “whey”nya lebih banyak, sehingga akan membetuk gumpalan yang lunak dan lebih mudah dicerna serta diserapoleh usus bayi.

Sekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi, sebab ASI mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak sangat bervariasi dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu fase lakatasi air susu yang pertama kali keluar hanya mengandung sekitar 1 – 2% lemak dan terlihat encer. Air susu yang encer ini akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut “Hand milk”, mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh air susu ini

Laktosa (gula susu) merupakan satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni. Jumlahnya dalam ASI tak terlalu bervariasi dan erdapat lebih banyak dibandingkan dengan susu sapi.

Disamping fungsinya sebagai sumber energi, juga didalam usus sebagian laktosa akan diubah menjadi asam laktat. Didalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain.

ASI mengandung lebih sedikit kalsium daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap, jumlah ini akan mencukupi kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya ASI juga mengandung lebih sedikit natrium, kalium, fosfor dan chlor dibandingkan dengan susu sapi, tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi.

Apabila makanan yang dikonsumsi ibu memadai, semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat sampai enam bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Hanya sedikit terdapat vitamin D dalam lemak susu, tetapi penyakit polio jarang terjadi pada aanak yang diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D yang terlarut dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi vitamin ini merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemak.



{Januari 28, 2010}   imunosupresan

Imunosupresan adalah kelompok obat yang digunakan untuk menekan respon imun seperti pencegah penolakan transpalansi, mengatasi penyakit autoimun dan mencegah hemolisis rhesus dan neonatus. Sebagain dari kelompok ini bersifat sitotokis dan digunakan sebagai antikanker. Immunosupresan merupakan zat-zat yang justru menekan aktivitas sistem imun dengan jalan interaksi di berbagai titik dari sistem tersebut. Titik kerjanya dalam proses-imun dapat berupa penghambatan transkripsi dari cytokin, sehingga mata rantai penting dalam respon-imun diperlemah. Khususnya IL-2 adalah esensial bagi perbanyakan dan diferensial limfosit, yang dapat dihambat pula oleh efek sitostatis langsung. Lagi pula T-cells bisa diinaktifkan atau dimusnahkan dengan pembentukan antibodies terhadap limfosit.

Imunosupresan digunakan untuk tiga indikasi utama yaitu, transplanatasi organ, penyakit autoimun, dan pencegahan hemolisis Rhesus pada neonatus.

1. Transplantasi organ

Penggunaannya.Immunosupresan banyak digunakan untuk mencegah reaksi penolakan pada transplantasi organ, karena tubuh membentuk antibodies terhadap sel-sel asing yang diterimanya. Guna mencegah penolakan transplantat selalu diberikan :

– Kortikisteroida

– Azatriopin, siklofosfanida, atau mycofenolat

– Siklosporin-A dan tacrolimus

– Limfositimunoglobulin (Limfoglobulin)

2. Penyakit autoimun

Guna menekan aktivitas penyakit auto imun sering digunakan zat-zat imunosupresif. Misalnya, pada rematik dan penyakit radang usus (colitis ulcerosa, M. Crohn) diberikan sulfasalazin dan sitostatika (MTX, azatioprin).

3. Pencegahan hemolisis rhesus pada neonates

Mekanisme kerja :

Respon imun

Pada mahkluk tingkat tinggi seperti hewan vertebrata dan manusia, terdapat dua sistem pertahanan (imunitas), yaitu imunitas nonsepesifik (innate immunity) dan imunitas spesifik ( adaptive imunity).

1. Imunitas nonspesifik

Merupakan mekanisme pertahanan terdepan yang meliputi komponen fisik berupa keutuhan kulit dan mukosa; komponen biokimiawi seperti asam lambung, lisozim, komploment ; dan komponen seluler nonspesifik seperti netrofil dan makrofag. Netrofil dan makrofag melakukan fagositosis terhadap benda asing dan memproduksi berbagai mediator untuk menarik sel-sel inflamasi lain di daerah infeksi. Selanjutnya benda asing akan dihancurkan dengan mekanisme inflamasi.

2. Imunitas spesifik

Memiliki karakterisasi khusus antara lain kemampuannya untuk bereaksi secara spesifik dengan antigen tertentu; kemampuan membedakan antigen asing dengan antigen sendiri (nonself terhadap self) ; dan kemampuan untuk bereaksi lebih cepat dan lebih efesien terhadap antigen yang sudah dikenal sebelumnya. Respon imun spesifik ini terdiri dari dua sistem imun , yaitu imunitas seluler dan imunitas humoral. Imunitas seluer melibatkan sel limposit T, sedangkan imunitas humoral melibatkan limposit B dan sel plasma yang berfungsi memproduksi antibodi.

Aktivitas sistem imun spesifik memerlukan partisipasi kelompok sel yang disebut sebagai antigen presenting sel. Prinsip umum penggunaan imunosupresan untuk mencapai hasil terapi yang optimal adalah sebagai berikut:

1. Respon imun primer lebih mudah dikendalikan dan ditekan dibandingkan dengan respon imun sekunder. Tahap awal respon primer mencakup: pengolahan antigen oleh APC, sintesis limfokin, proliferasi dan diferensiasi sel-sel imun. Tahap ini merupakan yang paling sensitif terhadap obat imunosupresan. Sebaliknya, begitu terbentuk sel memori, maka efektifitas obat imunosupresan akan jauh berkurang.

2. Obat imunosupresan memberikan efek yang berbeda terhadap antigen yang berbeda. Dosis yang dibutuhkan untuk menekan respon imun terhadap suatu antigen berbeda dengan dosis untuk antigen lain.

3.Penghambatan respon imun lebih berhasil bila obat imunosupresan diberikan sebelum paparan terhadap antigen. Sayangnya, hampir semua penyakit autoimun baru bisa dikenal setelah autoimuitas berkembang, sehingga relatif sulit di atasi.

Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya untuk melindungi tubuh juga berkurang, membuat patogen, termasuk virus yang menyebabkan penyakit. Penyakit defisiensi imun muncul ketika sistem imun kurang aktif daripada biasanya, menyebabkan munculnya infeksi. Defisiensi imun merupakan penyebab dari penyakit genetik, seperti severe combined immunodeficiency, atau diproduksi oleh farmaseutikal atau infeksi, seperti sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV. Penyakit autoimun menyebabkan sistem imun yang hiperaktif menyerang jaringan normal seperti jaringan tersebut merupakan benda asing. Penyakit autoimun yang umum termasuk rheumatoid arthritis, diabetes melitus tipe 1 dan lupus erythematosus. Peran penting imunologi tersebut pada kesehatan dan penyakit adalah bagian dari penelitian.

Contoh Imunosupresan : Metotrekstat, Azatioprin, Siklofosfamid intravena, Cyclophosphamide

Metotrekstat

– Nama : 4-amino-4-deoxy–10-methylpteoryl-L-glutamic acid.

– Struktur kimia : C20H22N8O5

– Sifat Fisikokimia : Serbuk kristal berwarna kuning atau oranye, higroskopis. Praktis tidak larut dalam air, alkohol, diklorometan, terurai dalam larutan asam mineral, basa hidroksida dan karbonat.

– Golongan/Kelas Terapi : Antineoplastik, Imunosupresan dan obat utnuk terapi.

– Nama dagang :Emthexate-Combiphar/Pharmachemie,Methotrexat-Ebewe, Methotrexate-Kalbe.

– Indikasi :

Pengobatan untuk neoplasma trofoblatik, leukemia, psoriasis, reumatoid artritis, termasuk terapi poliartikular juvenile reumatoid artritis (JDR); karsinoma payudara, karsinoma leher dan karsinoma kepala,karsinoma paru, osteosarkoma, sarcoma jaringan lunak, karsinoma saluran gastrointestinal, karsinoma esofagus, karsinoma testes, karsinoma limfoma.

– Dosis, cara pemberian dan lama pemberian :

Dosis 100 – 500 mg/m² membutuhkan leucovorin rescue, > 500 mg/m² harus menggunakan leucovorin rescue baik secara iv, im, maupun oral. Leucovorin 10 mg/m² setiap 6 jam untuk 6-8 dosis dimulai 24 jam setelah pemberian metotreksat. Pemberian leucovorin dilanjutkan sampai kadar metotreksat dalam darah sebesar < 0.1 micromolar. Jika kadar metotreksat setelah 48 jam > 1 mikromolar atau setelah 72 jam > 0.2 micromolar,berikan leucovorin 100 mg/m² setiap 6 jam sampai kadar metotreksat sebesar < 0.1 micromolar.

– Farmakologi :

Onset kerja : Antirematik: 3-6 minggu; tambahan perbaikan bisa dilanjutkan lebih lama dari 12 minggu.

Absorpsi : Oral: cepat : diserap baik pada dosis rendah (<30 mg/m2); tidak lengkap setelah dosis tinggi ; I.M.: Lengkap

Distribusi : Penetrasi lambat sampai cairan fase 3 (misal pleural efusi, ascites), eksis lambat dari kompartemen ini (lebih lambat dari plasma), melewati plasenta, jumlah sedikit masuk kelenjar susu, konsentrasi berangsur-angsur dikeluarkan di ginjal dan hati.

Ikatan protein: 50%

Metabolisme: <10%: Degradasi dengan flora intestinal pada DAMPA dengan karboksipeptida, oksidasi aldehid konversi metotreksat menjadi 7-OH metotreksat di hati; poliglutamat diproduksi secara mempunyai kekuatan samadengan metotreksat, produksinya tergantung dosis, durasi dan lambat dieliminasi oleh sel.

T ½ eliminasi: Dosis rendah: 3-10 jam; I.M.: 30-60 menit.

Ekskresi : Urin (44%-100%); feses (jumlah kecil)

– Stabilitas penyimpanan :

Tablet dan vial disimpan pada suhu kamar (15-25°C), hindari cahaya matahari langsung.

– Kontra Indikasi :

Hipersensitifitas dari metotreksat dan komponan lain dari sediaan; kerusakan hebat ginjal dan hati,pasien yang mengalami supresi sum-sum tulang dengan psoriasis atau reumatoid artritits,penyakit alkoholik hati,AIDS,darah diskariasis,kehamilan,menyusui.

– Efek samping :

Efek samping beragam sesuai rute pemberian dan dosis.

1. Hematologi dan/atau toksisitas gastrointestinal : sering terjadi pada penggunaan umum dari dosis umum metotreksat; reaksi ini lebih sedikit terjadi ketika digunakan pada dosis topikal untuk reumatoid artritis.

2. SSP : (dengan pemberian intratekal atau terapi dosis tinggi): Arachnoides: Manifestasi reaksi akut sebagai sakit kepala hebat, rigidity nuchal, muntah dan demam, dapat alleviated dengan pengurangan dosis.

3. Subakut toksisitas: 10% pasien diobat dengan 12-15 mg/m2 dari intratekal metotreksat bisa membuat ini dalam minggu kedua atau ketiga dari terapi; konsis dari paralisis motor dari ekstremites,palsy nerve kranial, seizure, atau koma.Hal ini juga terlihat pada pediatrik yang menerima dosis tinggi IV metotreksat.

4. Demyelinating enselopati: telihat dalam bulan atau tahun setelah menerima metotreksat; biasanya diasosiasikan dengan iradiasi kranial atau kemoterapi sistemik yang lain.

5.Dermatologi: Kulit menjadi kemerahan.Endokrin dan metabolik: Hipoerurikemia,detektif oogenesis, atau spermatogenesis.

6. GI: Ulserativ stomatitis, glossitis, gingivitis, mual, muntah, diare, anoreksia, perforasi intestinal, mukositis (tergantung dosis; terlihat pada 3-7 hari setelah terapi, terhenti setelah 2 minggu)

7.Hematologi: Leukopenia, trombositopenia.Ginjal: Gagal ginjal, azotemia,nefropati.Pernafasan: Faringitis. 1%-10%

8. Kardiovaskular: Vaskulitis.SSP, pusing, malaise, enselopati, seizure, demam, chills.

9. Myelosupresif : Terutama faktor batas-dosis (bersama dengan mukositis) dari metotreksat, terjadi sekitar 5-7 hari setelah terapi, dan harus dihentikan selama 2 minggu.

10. WBC : Ringan, Platelet: Sedang, Onset: 7 hari, Nadir: 10 hari, Recovery: 21 hari

11. Hepatik : Sirosis dan fibrosis portal pernah diasosiasikan dengan terapi kronik metotreksat, evaliasi akut dari enzym liver adalah biasa terjadi setelah dosis tinggi dan biasanya resolved dalam 1 hari.Neuromuskular dan skeletal: Arthalgia.Okular: Pandanga

12. Renal : Disfungsi ginjal. Manifestasi karena abrupt rise pada serum kreatinin dan BUN dan penurunan output urin, biasa terjadi pada dosis tinggi dan berhubungan dengan presipitasi dari obat.

13. Respirator (Penumositis) : Berhubungan dengan demam, batuk, dan interstitial pulmonari infitrates; pengobatan dengan metotreksat selama reaksi akut; interstitial pneumisitis pernah dilaporkan terjadi dengan insiden dari 1% pasien dengan RA (dosis 7.5-15 mg/minggu) <1% (terbatas sampai penting untuk penyelamatan hidup): Neurologi akut sindrom (pada dosis tinggi- simptom termasuk kebingungan, hemiparesis, kebutaan transisi,dan koma); anafilaksis alveolitis; disfungsi kognitif (pernah dilaporkan pada dosis rendah),penurunan resistensi infeksi,eritema multiforma, kegagalan hepatik, leukoenselopati (terutama mengikuti irasiasi spinal atau pengulangan terapi dosis tinggi),disorder limpoproliferatif, osteonekrosis dan nekrosis jaringan lunak (dengan radioterapi), perikarditis, erosions plaque (Psoriasis), seizure (lebih sering pada pasien dengan ALL),sindrom Stevens – Johnson, tromboembolisme.

-Interaksi :

1. Dengan Obat lain

Efek meningkatkan/toksisitas: Pengobatan bersama dengan NSAID telah menghasilkan supresi sum-sum tulang berat, anemia aplastik dan toksisitas pada saluran gastrointestinal. NSAID tidak boleh digunakan selama menggunakan metotreksat dosis sedang atau tinggi karena dapat meningkatkan level metotreksat dalam darah (dapat menaikkan toksisitas):

NSAID digunakan selama pengobatan dari reumatoid artritis tidak pernah amati, tapi kelanjutan dari regimen terdahulu pernah diikuti pada beberapa keadaan, dengan peringatan monitoring. Salisilat bisa meningkatkan level metotreksat, bagaimanapun penggunaan salisilat untuk profilaksis dari kejadian kardiovaskular tidak mendapat perhatian.

2. Dengan Makanan

Serum level metotreksat bisa menurun jika bersama dengan makanan. Makanan dengan banyak susu dapat menurunkan absorpsi metotreksat. Folat dapat menurunkan respons obat. Hindari echinacea (mempunyai sifat sebagai imunostimulan).

-Pengaruh :

1. Kehamilan

Faktor resiko X

2. Ibu menyusui

Metotreksat didistribusikan ke dalam air susu, dikontraindikasikan untuk ibu menyusui.

-Bentuk Sediaan : Tablet 2.5 ml, Vial 5 mg/2ml, Vial 50 mg/2 ml, Ampul 5 mg/ml, Vial 50mg/5ml

Zat-zat lain

1. Kortikosteroda

Hormon anak ginjal berkhasiat anti radang, imunosupresif, dan antialergis. Kedua efek terakhir untuk sebagian besar berhubungan dengan kerja antiradangnya dan terutama nampak pada reaksi imun di jaringan. Misalnya migrasi sel dan aktivitas fagocytose dari makrofag/monocyt dikurangi. Juga jaringan lymfatis dirombak, dimana limfosit-T dan –B berperan. Pembentukan antibodies hanya ditekan pada dosis amat tinggi. Kortikosteroida banyak digunakan sebagai obat tambahan pada penyakit auto-imun seperti rema, Sjogren, SLE, dan MS (multiple scerosis), juga pada terapi kanker. Efektif sekali untuk menekan dengan pesat exacerbatio penyakit (mendadak menjadi parahnya gejala penyakit).Untuk memelihara remisi pada penyakit-usus beradang kronis ternyata kurang efektif.

2. Siklosporin (Sandimmun, Neoral)

Endecapeptida siklis ini (1983) diperoleh dari fungi Tolypocladium inflatum dan terdiri dari 11 asam amino. Bersifat Immunosupresif istimewa dengan jalan menghambat secara spesifik respons-imun seluler. Proliferasi T-helpercells dan cytotoxic cells dihambat secara selektif dan reversible. Juga merintangi produksi/pelepasan IL-2 dan banyak limfokin lain. Produksi Limfo-T supressorcells justru distimulasi . Tidak berkhasiat myelosupressif.

Siklosporin terutama digunakan berkat sifat-sifat ini pada transplantasi organ atau sumsum untuk profilakse dan penanganan reaksi penolakan. Juga pada psioriasis, colitis dan penyakit Crohn. Siklosporin dapat dikombinasi dengan kortikoida atau immunosupressiva yang lain dengan maksud mengurangi nefrotoksisitasnya.

Resorbsi dari usus sangat variable, BA-nya 10-15%, PP-nya 98%, plasma T1/2-nya ca 20 jam. Bersifat sangat lipofil, maka distribusinya baik kesemua jaringan tubuh. Dalam hati dirombak menjadi 15 metabolityang terutama diekskresikan melalui empedu dengan siklus enterohepatis. Hanya 6% dieksresikan lewat kemih.

Efek samping utamanya adalah yang tergantung dari dosis dengan turunya nilai kreatinin (reversible). Juga hipertensi, hiperlipidemia, hipertrichosis, gangguan lambung-usus,nyeri kepala, tangan rasa terbakar, konvulsi, gangguan darah dan lain-lain. Bersifat karsinogen terutama bila digunakan lama dengan dosis tinggi (limfoma, kanker kulit).

Dosis : 4-12 jam sebelum transplantasi, oral 2,5-15 mg/kg selama 1-2 bulan, juga sebagai infuse intravena. Dosis disesuaikan dengan kadar siklosporin dalam darah.

3. Tacrolimus (prograf)

Senyawa makrolida ini diekstraksi dari jamur streptomyces tsukubaensis (1993). Khasiat dan mekanisme immunosupressivenya sama dengan sikolosporin, tetapi ca lebih kuat 50x dalam hal pencegahan sintesa IL-2 yang mutlak perlu untuk proliferasi sel –T. Juga bersifat sangat lipofil dan sama efektifnya dengan siklosporin pada transplantasi hati, jantung, paru-paru, dan ginjal. Terutama digunakan bersama kortikosteroida. Lebih sering menimbulkan efek samping berupa toksisitas bagi ginjal dan saraf.

Dosis : infuse i.v. 0,05-0,1 mg /kg/hari, 6 jam setelah transplantasi selama 2-3 hari, lalu dilanjutkan oral 0,15-0,3 mg/kg/hari dalam 2 dosis.

4. Mycofenolat-mofetil (CellCept)

Obat terbaru ini (1996) adalah prodrug dengan khasiat menekan perbenyakan dari khusus limfosit melalui inhibisi enzim dehidrogenasi yang diperlukan untuk sintese purin (DNA/RNA). Ternyata sangat efektif untuk melawan penolakan akut setelah transplantasi ginjal. Dibandingkan dengan obat-obat lainya , yaitu azatioprin dan siklosporin ( dan prednisone), persentase penolakan dikurangi sampai 50%. Lagi pula efek sampingnya lebih sedikit. Mungkin berdaya pula untuk menghambat penolakan menahun (jangka panjang) yang smpai kini merupakan maslah besar.

Resorpsinya dari usus baik, dengan BA 90%. Dalam hati segera diubah menjadi asam mycofenolat aktif . Ekskresinya berlangsung melaluiurin sebagai glukuronidanya (inaktif), sesudah mengalami resirkulasi enterohepatis. Plasma – t1/2 mycofenolat adalah ca 16 jam.

Dosis : dalam waktu 72 jam setelah transplantasi 2 dd 1ga.c dengan minyak air.

5. Talidomida (synovir)

Derivat-piperidin ini (1957) adalah obat tidur dengan efek teratogen sangat kuat (peristiwa softenon, 1962, lihat edisi empat), yang berdasarkan khasiat anti-angiogenesisnya. Juga berdaya imunosupresif (anti-TNF). Dan antiradang. Setelah dilarang peredaranya selama lebih dari 25 tahun, sejak awal tahun 1990-an talidomida mulai digunakan lagi antara lain untuk menekan reaksi lepra dan meringankan gejala AIDS seperti (aphtae) dimulut , kerongkongan, dan kemaluan, serta diare dan kehilangan bobot serius. Di AS penggunaanya pada lepra disahkan kembali sejak akhir tahun 1997 dengan syarat- syarat ketat. Dewasa ini efektivitasnya sedang diselidiki secara klinis untuk berbagai penyakit auto-imun.

6. Sulfalazin (sulcolon)

Sulfalazin adalah persenyawaan sulfapiridin dengan 5- ASA yang bersifat antiradang dengan jalan blokade siklo-oksigenase serta lipoksigenase dan dengan demikian mencegah sintesis prostaglandin dan leukotrien . Sulfalazin mempengaruhi fungsi limfosit, mungkin lewat cytokine, juga berdaya antioksidans ( ‘ Menangkap’ radikal bebas O2). Zat ini digunakan khusus pada penyakit usus beradang kronis (crohn, colitis) dan pada rema.



{Januari 28, 2010}   imunisasi

Imunisasi

adalah usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak engan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.

Vaksin

adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat antibodi sehingga dapat berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap penyakit.

Vaksinasi

adalah memberikan vaksin(bakteri/virus hidup/mati)

Vaksin dapat terdiri dari:

  1. Virus hidup yang telah dilemahkan.
  2. Sediaan virus atau bakteri yang telah mengalami inaktivasi.
  3. Ekstrak eksotoksin yang dihasilkan mikroorganisme ata eksotoksin yang telah mengalami detoksifikasi. Contoh: vaksin tetanus

Jenis-jenis vaksin:

Vaksin bakteri Vaksin virus
Vaksin hidup – BCG – campak

– parotitis

– rubella

– varisella

– OPV

– yellow fever

Vaksin inaktif – difteria

– tetanus

– pertusis

– kkolera

– meningo

– pneumo

– Hib

– typhim Vi

– influenza

– IPV

– rabies

– hepatitis B

– hepatitis A

A. Vaksin BCG ( Baccile Calmette Guerin )

Ditemukan oleh Calmette dan Guerin. Vaksin ini tidak dapat mencegah infeksi M. Tuberculosa, tetapi dapat mencegah penyebaran penyait lebih lanut.. vaksin hidup yang dibuat dari Mycobacterium Bovis yang dilemahkan. Vaksin berbentuk bubuk kering harus dilarutkan dengan NaCl 0,9% 4cc.

Tiap ml mengandung: basil hidup 0,375 mg, Na glutamat 1,875mg, NaCl 9 mg.

Disimpan dalam suhu 2-8 C, tidak boleh beku dan tidak boleh terkena sinar matahari dan alkohol karena vaksin sangat labil.

Dosis: 0,05ml intracutan di dareah insersio muskulus deltoideus kanan.

Diberikan pada bayi usia < 2 bulan. Diberikan 1 kali.

Reaksi sesudah imunisasi:

* reaksi normal lokal.

2 minggu indurasi, eritema kemudian menjadi fistula

3-4 minggu, pustula pecah menjadi ulkus ( tidak perlu pengobatan )

8-12 minggu, ulkus menjadi scar diameter 3-7 mm

* reaksi regional pada kelenjar

merupakan respon seluler pertahanan tuuh.

Kadang terjadi di kelenjar axila dan servikal

timbul 2-6 bulan sesudah imunisasi.

Kelenjar berkonsistensi padat, tidak nyeri, demam (-).

akan mengecil 1-3 bulan kemudian tanpa pengobatan

Proteksi: mulai 8-12 minggu asca vaksinasi.

– daya lindung hanya 42% ( WHO 50-78%)

– 70% TB berat mempunyai parut BCG

– dewasa: BTA (+) 25-36% walaupun pernah BCG

KIPI

  • Abses di tempat suntikan, abses bersifat tenang ( cold abses ) idak perlu terapi, oleh karena suntikan sub cutan, abses matang aspirasi.
  • Limfadenitif supurativ, oleh karena suntikan sub kutan atau dosis tinggi. Terjadi 2 bulan setelah imunisasi, terapi tuberkulostatik mempercepat pengecilan.

K`ontrainndikasi

respon imunologik terganggu: imunokompromise

B. Polio

Ada 2 tipe:

  1. Vaksin Polio Oral ( OPV)

Suatu suspensi yang berasal dari virus hidup yang dilemahkan. Yaitu virus poliomyelitis tip 1, 2, 3 strain Sabin. Penyimpanan pada suhu -200C, potensi sampai dengan 2tahun. Pada suhu 2-80C hanya sampai 6 bulan. Vaksin ini sangat stabil, tetapi setelah dibuka akan segera kehilangn potensinya, oleh karena itu sisa vaksin setelah imunisasi harus dbuang. Dapat disimpan beku asal warna tidak berubah dan blum kadaluarsa.

Vaksin digunakan rutin sejak bayi lahir, sebagai dosis awal, dosis 2 tetes ( segera terlindungi dari virus polio liar. Imunisasi dasa/primer umur 2-3 bulan dalam 3 dosis terpisah, dengan interval 6-8 minggu. Dapat diberikan dengan gula, tidak boleh diberikan dengan makanan yang mengandung pengawet. SI tida berpengaruh pada respon antibody. Bila dimuntahkan dalam 10menit, dosis perlu diulang.

KIPI:

  • Pusing, diare ringan , nyeri otot.
  • VAVP dan VDVP

Kontraindikasi:

  • Penyakit akut/demam (suhu >38,50C) vaksin ditunda.
  • Muntah atau iare hebat vaksin ditunda. Boleh divakin 4 minggu kemudian. Beri 1 dosis tambahan.
  • Pengoatan kortikosteroid, imunosupresif, radiasi umum.
  • Eganasan retikuloendotelal, imunitas erganggu.
  • Infeksi HIV
  • Ibu hamil 4 bulan pertama.
  • Jangan diberikan dengan vaksin oral tifoid.
  • Hipersensitif berlebihan terhadap antibiotic.
  • Kontak dengan anak imunosupresif.
  1. Polio Injeksi (IPV)

Dari antigen polio tipe1, 2, 3 yang telah mati. Disimpan pada suhu 2-80C, stabil selama 3 tahun. Tidak boleh dibekukan. Imunitas mukosal IPV lebih rendah dari OPV. Keduanya dapt diberikan secara bergantian. IPV dapat diberikan pada anak sehat, anak dengan imunokompromise atau bersamaan dengan vaksin DPT. Tidak ada KIPI VAVP dan VDVP.

Dosis 0,05 ml, suntikan subkutan dalam/ intramuscular di paha kiri. Polio 1 pada saat bayi lahir, imunisasi dasar 3 kali dengan interval minimal 4 minggu. Vaksin ulangan 1 tahun setelah polio 4.

Umur OPV IPV
0 bulan

2 bulan

3 bulan

4 bulan

9 bulan

OPV1, BCG, Hep B

OPV2, DPT-Hep B1

OPV3, DPT-Hep B2

OPV4, DPT-Hep B3

campak

BCG, Hep B

IPV1, DPT-HepB1

IPV2, DPT-HepB2

IPV3, DPT-HepB3

IPV4, campak

C. hepatitis B

Mengandung inactivated hepatitis B virus surface antigen ( HBsAg). Ada 2 macam imunisasi hepatitis B, yaitu:

  1. Imunisasi pasif

Hepatitis B immunoglobulin ( HBIg ) dalam waktu singkat memberikan proteksi, mekipun untuk jangka pendek. Sebaiknya dilanjutkan dengan pemberian imunisasi aktif agar proteksi lama.

  1. Imunisasi aktif

Vaksinasi hepatitis B ( VH B ). 3 seri pemberian.

Dosis, injeksi itramuskular di paha kanan. 3 dosis 0,5 ml.

Jadwal:

  • Hepatitis B 1, sedini mungkin setelah bayi lahir.
  • Hepatitis B 2, 1 bulan dari hepatitis B 1.
  • Hepatitis B 3, 6 bulan dari hepatitis B1.

Vaksin hepatitis B1 monovalen / uniject.

Bayi lahir dari ibu dengan HBsAg positif, beri vaksin HBIg 0,5 ml kemudian diberikan dengan dosis selanjutnya dengan tempat yang berbeda.

D. DPT

Difteri dan tetanus berasal dari toksoid yang dimurnikan. Sedangkan pertusis dari bakteri mati yang teradsorbsi dalam alumunium fosfat. Tiap 1ml: 40 Lf toksoid difteri, 24 OU pertusis, 15 Lf toksoid tetanus, Al fosfat 3 mg, thimerosal 0,1 mg. vaksin disimpan dalam suhu 2-80C. jangan di dalam freezer. Sebelum digunakan, kocok dulu sampai homgen. Bila ada gumpalan atau endapan jangan digunakan.

Dosis:

Intra muscular, 0,5 ml.

Jadwal:

  • Dberikan 3 kali sejak umur 2 bulan dengan interval 4-6 minggu.
  • DPT 1 umur 2 bulan.
  • DPT 2 umur 3 buLan.
  • DPT 3 umur 4 bulan
  • DPT ulangan setelah 1tahun ( 18-24 bulan)
  • DPT 5 pada saat masuk sekolah ( 5 tahun )
  • DT 6 pada umur 6 ahun.

Efek samping/ KIPI:

  • lokal: nyeri, bengkak
  • Istemik:d emam,muntah, mual, kejang, ensefalopatik ( 7 hari kemudian), paralisis ( 30 hari, 1/1 juta resipien).
  • Gelisah dan nangis terus menerus pasca penyuntikan.

Kontra indikasi:

  • Demam, reaksi berlebihan imunisasi sebelumnya, klainan neurologi, riwayat kejang.

DT kombinasi toksoid difteria dan tetanus. Diberikan ada anak kontraindikasi pertusis.

Kontra indikasi pertusis:

  • Riwayat anafilaksis
  • Ensefalopati sesudah pemberian pertusis pada imunisasi sebelumnya.
  • Riwayat hiperpireksia, hipotonik-hiporesponsif dalam 48 jam, menangis teru menerus dalam 3 jam, kejang dalam waktu 3 hari pasca enyuntikan pertusis sebelumnya.

E. Campak

Vaksin berasal dari virus hidup yang dilemahkan. Vaksin kering sebaiknya disimpan pada suhu kurang dari 00C atau kurang dari 80C, lebih baik -200C. Jangan terkena sinar matahari. Setelah dilarutkan, dalam suhu 2-80C maksimum 8 jam dan tidak membeku.

Dosis :

0,5 ml subkutan di deltoid lengan atas. Tiap 0,5 ml mengandung : 1000U virus strain CAM 70, 100 mcg kanamisin, 30 mg eritromicin.

Diberikan pada usia 9 bulan. Bila ada outbreak atau wabah 6 bulan di ulang usia 12 bulan kemudian. Jika umur 15-18 bulan mendapat vaksin MMR imunisasi ulangan tidak perlu. Imunisasi ulangan dilakukan pada saat masuk SD (5-6 tahun). Lama proteksi 8-16 tahun

KIPI : Demam ringan, kemerahan 3 hari, timbul 8-12 hari setelah imunisasi, mual, diare, konjungtivitis (7-12 hari), enchepalitis (1/1 juta, 30 hari pasca imunisasi)

Kontra indikasi :

  • alergi telur ayam.,eritrimicin, kanamicin
  • infeksi akut (demam)
  • imunokompromise dan ibu hamil ditunda setelah 3 bulan setelah transfuse

IMUNISASI NON PPI

A. HIB ( Haemophyllus Influenzae Tipe B)

Polisakarida H.Influenza B dikonjugasikan pada toksoid tetanus, trometamol, sukrosa, NaCl. Vaksin ini mencegah meningitis, bronchopneumonia, epiglotitis. Vaksin disimpan pada suhu 2-80C dan tidak boleh beku. Jika suspense berkabut keputihan, normal.

Vaksin diberikan dalam seri 3 dosis dengan interval 1 bulan yaitu pada 2, 4, 6 bulan, diulang 15 bulan. Bila umur 6 bulan – 1 tahun diberikan 2 kali. Umur > 1 tahun 1 kali.

Dosis : 0,5 ml intramuscular pada paha mid anterolateral ( pada anak <2tahun ), atau subcutan dalam di deltoid pada anak usia >2 tahun. Lokasi penyuntikan berbeda dari vaksin lain yang diberikan secara bersamaan.

Efek samping : jarang terjadi

Kontra indikasi : hipersensitif, demam, infeksi akut

B. MMR ( Vaksin Measles Mumps Rubella )

Bertujuan untuk membasmi rubella ( dan sindrom rubella congenital ), campak dan mumps.

Vaksin dari virus campak Schwarz hidup yang dilemahkan dalam embrio ayam. Virus gondong urabe dibiak dalam telur ayam. Virus rubella wistar dibiak pada sel diploid manusia.

Tersedia dalam vial, simpan dalam suhu 2-80C.

Dosis pertama diberikan pada anak usia 12-15 bulan, ulangan 12 tahun.

Dosis : 0,5 ml secara subcutan dalam atau intramuscular.

KIPI :

  • Demam ringan, eritema, purpura
  • Sejak har kelima erupsi kulit bintik merah
  • Hipertemia, parotitis, adenopati
  • Enchepalopati, tuli, meningitis
  • Orktitis, trombositopenia

Kontra indikasi :

  • Imunokompromise dan ibu hamil, pasca imunoglobulum
  • Alergi telur ayam, neomycin, kanamicin
  • Transfuse darah ( tunda 6-18 minggu )

C. Vaksin Demam Thypoid

Ada 2 jenis :

  • Inaktif : typim, injeksi dalam bentuk suspensi
  • Hidup yang dilemahkan per oral dalam bentuk kapsul enteric coatet

Komposisi vaksin :

  • Polisakarida kapsul virus Salmonella typim
  • Fenol, NaCl, NaHPO3H

Vaksin di simpan pada suhu 2-80C. vaksin tidak melindungi terhadap Salmonella parathypi A dan B. Hanya mencegah Salmonella thypi.

Dosis :

  • Suntikan umur >2 tahun intramuscular/subcutan 0,5 ml, di ulang 3 tahun
  • Oral diatas 6 tahun 3 dosis selang sehari (2 hari sekali) tiap dosis 1 kapsul

KIPI :

  • Lokal : nyeri, indurasi, eritema (ringan)
  • Sistemik : demam, diare, muntah (ringan dan jarang)

Kontra indikasi : per oral individu dengan imunosupresan , ibu hamil dan di inaktifasi bila diberikan bersama antibiotic dan sulfonamide.

D. Vaksin hepatitis A

Vaksin ini dibuat dari virus hepatitis A yang dikembangbiakan dalam sel diploid manusia dan di inaktivasi dalam formaldehyde.

Indikasi:

– staff laboratorium yang bekerja langsung dengan virus

– pasien hemophilia yang diobati dengan konsentrat faktor VIII atau IX,

-wisatawan yang berpergian ke tempat resiko tinggi ( endemis )

– individu yang memiliki resiko tinggi karena prilaku sexualnya.

– panti asuhan

Vaksin hepatitis A disimpan pada suhu 2-8 0 C.

Dosis :

Diberikan pada anak umur > 2 tahun, diberikan 2 x ( 270 unit), interval 4 minggu, perlindungan > 10 tahun .Dosisi ketiga diberikan 6 bulan kemudian.

Vaksin diberikan IM deltoid 0,5 ml.

KIPI :

  • Lokal : erytema dan indurasi,nyeri otot dan tulang.
  • Sistemik : lelah, mual, muntah, demam, sakit kepala, lesu ( jarang dan ringan )

Kontrindikasi :

  • Demam, infeksi akut
  • Hipersensitif terhadap komponen vaksin

E. Vaksin Varicella

Vaksin dari virus hidup yang dilemahkan, straing oka. Mengandung kanamycin sulfat, erytromicin.

Direkomendasikan pada usia >12 tahun. Bila pada 1 tahun , di ulang umur pada umur 12 tahun.

Dosis :

Subkutan, 0,5 ml.

Kontraindikasi : demam, sakit perut, ibu hamil, individu dengan gangguan respon imun.

KIPI :

  • Lokal : merah, bengkak, indurasi
  • Sistemik : demam , kemerahan, 1-3 minggu kemudian , anfilaktik, perdarahan.

Perhatian :

  • Jangan diberikan bersama vaksin hidup lain.
  • Jangan hamil dalam 2 bulan yang akan datang.
  • Tidak efektif bila tranfusi gamaglobulin

F. Vaksin Kolera

Vaksin mengandung Vibrio Cholerae Serovar Oi.Sub tipe Inaba dan Ogawa yang dimatikan dengan pemanasan.

Vaksin kolera dapat memberi sedikit perlindungan infeksi tetapi tidak dapat mengendalikan penyebaran penyakit. Menurut depkes vaksin ini tidak perlu lagi diberikan untuk perjalanan internasional.

Dosis :

Dosis pertama biasanya 0,5 ml dengan cara injeksi subcutan dalam /Intramusculer. Dosis kedua setelah paling sedikit 1 minggu dan lebih baik 4 minggu 1 ml. Dosis penguat setiap 6 bulan bila terjadi pemaparan terus menerus.

Anak usia 1-5 tahun 0,1 ml, dosis kedua 0,3 ml

Anak usia 5-10 tahun 0,3 ml, dosis kedua 0,5 ml

G. Vaksin Influenza

Vaksin nfluenza yang dipasarkan dan dipakai mengandung komponen H dan N dari strain yang sering timbul. Strain tersebut kemudian dikembangbiakan dalam rongga alantoik embrio ayam.

Indikasi :

  • Orang-orang yang ber4esiko tinggi.
  • Imunisasi tahunan sangat dianjurkan untutk semua golongan umur khususnya usia lanjut dengan kondisi penyakit respirasi kronik termasuk asma, penyakit jantung kronik, gagal ginjal kronik, diabetes militus, imunosupresi.
  • Penghuni panti jompo.

Kontra indikasi : hipersensitif terhadap telur ayam.

Contoh vaksin : Vaxigrip (Pasteur-Merieux-Bio Farma) (K)

Dosis : 0,5 ml secara subcutan dalam/intramuscular

Untuk anak usia 6-47 bulan 0,25 ml diulang sekali setelah 4-6 minggu

4-12 tahun 0,5 ml diulang sekali setelah 4-6 minggu

Dosis tunggal cocok untuk anak yang diimunisasi

H. Vaksin Rabies

Imunisasi profilaktik dengan vaksin rabies sel diploid manusia harus diberikan kepada mereka yang beresiko tinggi.

Indikasi : mereka yang bekerja di kebun binatang, dokter hewan, staf laborat, petugas pelabuhan tertentu, petugas kesehatan yang mungkin dekat dengan pasien rabies.

Depkes telah menganjurkan penggunaan profilaktifk vaksin yang menghasilkan respon antibody yang baik dengan pemberian 3 dosis pada hari ke- 0, 7 dan 28 dan dengan dosis penguat 2-3 tahun untuk mereka yang tetap dalam resiko.

Tidak ada kontra indikasi yang spesifik terhadap vaksin sel diploid ini.

Dosis : profilaktik, 1 ml secara injeksi subcutan dalam / intramuscular. Pasca paparan 1 ml subcutan dalam / intramuscular pada area deltoid. Pada daerah gluteal responnya kurang baik.

Kehamilan tidak dianggap sebagai kontra indikasi profilaksis pasca paparan. Bila ada resiko nyata profilaksis pra paparan dapat diindikasikan selama kehamilan.

I. Vaksin Yellow Fever

Suatu suspensi berisi virus hidup yang dilemahan (strain 17D) yang dibiakkan dalam embrio ayam.

Indikasi : mereka yang bepergian ke daerah endemic, staf laboratorium, bayi dibawah usia 9 bulan hanya divaksinasi bila resiko Yellow Fever tak terelakan karena ada sedikit resiko untuk menjadi enchepalitis.

Kontra indikasi : mereka dengan gangguan respon kekebalan, riwayat anafiktatik dengan telur, ibu hamil.

Dosis : 0,5 ml injeksi subcutan. Kekebalan mungkin untuk seumur hidup tetapi secara resmi dianggap 10 tahun di mulai dari 10 hari setelah imunisasi primer dan 10 tahun sesudahnya segera revaksinasi.



{November 23, 2009}   neonatus…
  1. Asfiksia

 

  1. Definisi:

Asfiksia neonatorum adalah kadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia jnin dalam iterus dan hipoksia ini berhubungan dengan factor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah lahir.

 

  1. Penyebab:

Asfiksia neoatorum disebabkan oleh beberapa factor, yaitu:

  1. Etiologi dan faktor predisposisi

Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena gangguan pertukaran gas serta transport O2 dari ibu ke janin sehingga terdapat gangguan dalam menghilangkan CO2. Gangguan ini dapat barlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan, atau secara mendadk karena hal-hal yang diderita ibu dalam persalinan. Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi ibu yang buruk, penyakit menahun seperti anemia, hipertensi, penyakit jantug, dll. Hal ini dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan antenatal secara sempurna.

Faktor-faktor dalam persalinan bersifat lebih mendadak dan hampir selalu mengakibatkan anoksia atau hpoksia janin dan berakhir dengan asfiksia. Factor-faktor yang mendadak ini terdiri atas:

  1. Faktor dari pihak janin

a)      Gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat.

b)      Depresi pernafasan karena obat-obat anastesia/analgetika yang diberikan kepada ibu, perdarahan intracranial dan kelainan bawaan.

c)      Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pcmbuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.

  1. Faktor dari pihak ibu

a)      Gangguan his, misalnya hipertoni dan tetani uterus akibat penyakit atau obat.

b)      Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan. Missal pada plasenta previa.

d)     Hipertensi pada eklamsia.

e)      Gangguan mendadak pada plasenta. Misal, solusio plasenta, perdarahan plasenta.

  1. Faktor Neonatus

Depresi pusat pernapasan pada bayi baun lahir dapat terjadi karena :

1. Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin.

2. Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarah intrakranial. Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika atresia/stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.

 

 

  1. Gangguan homeostatis

Perubahan pertukaran gas dan traspor oksigen selama kehamilan dan persalinan akan mempengaruhi oksigenasi sel-sel tubuh yang selanjutnya dapat mengakibatkan gangguan fungsi sel. Gangguan fungsi ini dapat ringan serta sementaa atau menetap, tergantung dari perubahan homeostatis yang terdapat pada janin. Perubahan homeostatis ini berhubungan erat dengan beratnya dan lamanya anoksia dan hipoksia yang diderita.

  1. Patofisiologis

Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien).Bila terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fugsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (Primany apnea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (Secondary apnea). Pada tingkat ini ditemukan bradikardi dan penurunan tekanan darah. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan akan tingginya resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakan sel otak yang terjadi menimbuikan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.

 

  1. Tanda dan gejala:

Dapat diketahui melalui APGAR score.

a)      Pernafasan lemah atau tidak teratur

b)      Frekuensi nadi lemah. <100

c)      Warna kulit pucat, atau kebiruan pada ekstremitas.

d)     Gerakan kurang aktif atau lemas.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada asfiksia:

  1. Menurunnya tekanan O2 arterial.
  2. Meningkatnya tekanan CO2
  3. turunnya pH darah.
  4. dipakainya simpanan glikogen tubuh untuk metabolism anaerobic.
  5. Terjadinya perubahan fungsi system kardiovaskuler.

 

  1. Komplikasi:

Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Misalnya dapat terjadi gangguan pada otak, kerja jantung dan kematian.

 

 

  1. Penatalaksanaan

Dilakukan resusitasi. Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, prinsip dasar yang perlu diingat adalah:

a)      Menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi dan mengusahakan tetap benasnya jalan napas.

b)      Membeikan bantuan pernapasan secara aktif kepada bayi dengan usaha pernapasan buatan.

c)      Memperbaiki asidosis yang terjadi.

d)     Menjaga agar peredaran darah tetap baik.

Tindakan-tindakan yang dilakukan pada bayi dapat dibagi dalam 2 golongan:

1)                  Tindakan umum

Dikerjakan pada setiap bayi tanpa melihat nilai APGAR. Segera setelah bayi lahir, usahakan agar bayi mendapatkan pemanasan yang baik untuk mencegah hilangnya panas dari tubuh. Dapat digunakan sinar lampu untuk pemanasan luar. Diberi suntikan vitamin K pada bayi-bayi tertentu.ayi diletakkan dengan kepala lebih rendah dan penghisapan saluran pernapasan bagian atas segera dilakukan dengan hati-hati. Bila bayi belum memperlihatkan usaha bernafas, rangsangan terhadapnya harus segera dilakuka. Hal ini dapat berupa rangsangan nyeri dengan memukul kedua telapak kaki, menekan tendon Achilles, atau d

2)                  Tindakan khusus

Prosedur yang dilakukan disesuaikan dengan berat asfiksia yang timbul pada bayi, yang dinyatakan oleh tinggi rendahnya nilai APGAR.

  1. Asfiksia berat ( nilai APGAR 0-3 )

Resuitasi aktif dalam keadaan ini harus segera dilakukan.  Langkah utama ialah memperaiki entilasi paru-paru dengan memberikan O2 secarac tekanan langsung  dan berulang-ulang. Secara ideal napas buatan harus dilkukan terlebih dahulu memasang manometer. Selanjutnya untuk memperoleh tekanan positif yang lebih aman dan efektif, dapat digunakan dengan pompa resusitasi.

Keadaan asfiksia berat ini hampir selalu disertai dengan asidosis yang membutuhkan tindakan segera.Karena itu, bikarbonus natrikus 7,5 % harus segera diberikan dengan dosis 2-4ml/kg BB. Di samping itu,glukosa 40% diberikan pula dengan dosis 1-2ml/BB. Obat-obat ini harus diberikan secara hati-hati.

Bila setelah beberapa waktu pernapasan spontan tidak timbul dan frekuensi jantung  menurun ( kurang dari 100 permenit) maka pemberian obat-obat lain sebaiknya segera dilakukan. Massage jantung dikerjakan dengan melakukan dengan penekann  di atas tulang dada secara teratur 80-100 kali permenit. Tindakan ini dilakukan berselingan dengan napas buatan, yaitu setip kali message jantung diikuti dengan 1kali napas buatan. Hal ini bertujuan untuk  bertujuan untuk menghindari kemungkinan terjadinya komplikasi pneumothoraks.

Bila tindakan-tindakan di atas tidak memberikan hasil yang diharapkan, keadaan bayi harus dinilai lagi karena hal ini mungkin disebabkan oleh gangguan keseimbangan asam dan basa yang belum diperbaiki seara semestinya, adanya ganggan organic seperti hernia diafragmatika, atresia atau stenosis jalan napas, dan lain-lain.

  1. Asfiksia ringan-sedang (nilai APGAR 4-6)

Di sini dapat dicoba melakukan rangsangan  untuk menimbulkan reflex pernapasan. Hal  ini dapat dikerjakan selama 30-60 menit setelah penilaian APGAR 1 menit. Bila dalam waktu tersebut pernapasan  buatan harus segera dimulai. Pernapasan aktif yang sederhana sapat dilakukan seara pernapasan kodok (frog breathing). Ara in I dikerjakan dengan memasukkan pipa ke dalam  hidung,  dan O2 dialirkan dengan kecepatan 1-2 liter dalam 1 menit. Agar saluran napas bebas, bayi diletakkan dengan kepala dalam dorsofleksi. Secara teratur dilakukan gerakan membka dan menutup lubang hidung dan mulut dengan disertai dengan menggerakan dagu ke atas dank e bawah dalam frekuensi 20kali semenit. Tindakan ini dilakukan dengan memperhatikan gerakan dinding thorak dan abdomen. Pernapasan ini dihentikan bila setelah 1-2 menit tidak juga dicapai hasil yang diharapkan, dan segera dilakukan pernapasan buatan dengan tekanan positif secara tidak langsung. Pernapasan ini dapat dilakukan dahulu dengan pernapasan dari mulut ke mulut.

 



{November 23, 2009}   post ujian…..

22 novembaer 2009…..

HAPPY B’DAY IBU’…. i wish u have a long life and always be healthy!!!!! < bebek goreng>

moga2 selalu sehat, murah rejeki, diberi umur panjang…. selamat dunia akhirat.wish u all d’best lah… AMIEN!!! <bbebek betina>

wuih…wuih…wuih…. capeknya,,,habis ujian. rasanya BEBAS, MERDEKA,FREE!!!!! surga dunia,,bisa tidur sepuasnya. semoga ujian kemarin, hasilnya baik…AMIEN!!!!

tapi kemarin neo ku agak dret…dret…dret…soalnya aku dikerjain m bebek goreng. 2minggu aku dikerjain, di bikin nangis, dibikin gak semangat. jadi gak konsen…hiks2

pas aku cerita m temen2ku, TERNYATA mereka dah pada tau… aku sebel!!!!!!!! dan yg lebih parah, ternyata bebek goreng tu dah bilang m temen2ku. ngerjainnya kebangeten! masa dia bilang kalo dah ada betina lain. dia bilang dah berpaling m betina lain. aku jadi dicuekin!!! untung adeknya bekgor baik. saat aku nangis dia langsung bilang kalo ternyata aku dikerjjain. trus aku pura2 gak tau.temen2ku juga pinter akting di depanku. mereka selalu bilang,, mungkin bekgor gy sibuk kali…. tapi sabar, suatu saat pasti kamu bakal bahagia. akan ada sesuatu yang membuatmu shocks… < apa itu???????>

ternyata bekgor sengaja ngerjain aku coz dia mw pulang ke kandang indo…. katanya sih tanggal 26 nov besok…

hhhmmmmm….



{November 16, 2009}   liburan di tengah UTS ku….

tuing….tuing….

Y Allah, aku pusing banget. kepalaku sakiiittttt…… dari hari jumat kemaren, aku dah ngrasa gak enak badan. semalam dikerik. merah2 oiiii…… ckckckck. perih bgt rasanya. tadi aku ujian askeb nifas. tapi semalam aku lupa jadwal. akhirnya aku belajar sebisaku…. santae aja…!!!!gak usah pusing2. hehehe

tapi, pusingku ni lho…… tolooonnnggggg!!!!!!!!!aku gak kuat! padahal besok aku ujian IKA, ilmu kesehatan anak… tentang imunisasi, anak, penyakit,etc. Pokoknya smua tentang sesuatu yg aku gak duonk!!!! tapi aku harus bisa!!!!! Ok!!! tapi aku pusiiiinnngggg…..

dari jumat kemaren aku pengen cerita m bebek jantan. tapi dia masih sibuk kuliah. bebek,,,,,,hikz2. nttar malam,, dengarkan curhatku…… ok!!!! hehehehe

 



{November 16, 2009}   gizi ibu menyusui

Setiap ibu yang melahirkan bayinya diharapkan kondisi tubuhnya tetap baik, sehat, dan menarik, sehingga ibu dapat merawat bayinya dengan baik pula. Ibu pun berharap dapat menyusui bayinya sebanyak dan selama mungkin. Dalam hal ini pangan dan gizi memegang peranan penting.

Sebaliknya, bila pada saat hamil ibu makan berlebihan tak terkendali (karena nafsu makan ibu hamil besar, terutama setelah triwulan ke-2) berat badan ibu bertambah dan ibu menjadi gemuk. Ini akan bertambah lagi pada periode menyusui, karena setelah ibu menyusukan bayinya terasa lapar dan makan. Bila sehari 6 kali menyusui, makan pun menjadi 6 kali sehari. Di sinilah ibu harus bijaksana untuk memilih dan mengatur makanannya agar selalu dapat menghidangkan menu seimbang supaya dapat mempertahankan berat badan yang ideal untuk ibu menyusui dan dapat menyusui sampai semaksimal mungkin (anjuran sampai 2 tahun).

Pada masa 0-6 bulan menyusui, seorang ibu (dengan berat badan sekitar 54 kg dan tinggi 156 cm serta memiliki kegiatan sedang) memerlukan 2.950 kalori dan 64 gram zat protein. Jumlah ini berkurang menjadi 2.750 kalori dan 60 gram zat protein pada masa 7-12 bulan menyusui (Dr. Muhilai dkk, Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan).

Selain kalori dan protein, diperlukan pula zat-zat lain seperti Vitamin A, B, B12, kalsium, zat besi, dan lainnya. Kebutuhan ini lebih besar daripada kebutuhan orang dewasa biasa.

Seorang ibu menyusui membutuhkan 300-500 kalori tambahan setiap hari untuk dapat menyusui bayinya dengan sukses. 300 kalori yang dibutuhkan oleh si bayi datang dari lemak yang ditimbun selama kehamilan. Artinya, seorang ibu menyusui tidak perlu makan berlebihan, tetapi cukup menjaga agar konsumsi gizinya seimbang, dan asalkan si ibu selalu menuruti rasa laparnya. Proses menyusui itu sendiri membantu ibu mengurangi berat badan dan menjadi langsing kembali. Tetapi, berdiet atau menahan lapar akan mengurangi produksi susu si ibu.

Pada kenyataanya, tidak ada makanan atau minuman khusus yang dapat memproduksi ASI secara ajaib, meskipun banyak masyarakat percaya bahwa makanan / minuman tertentu akan menambah ASI. Namun, telah terbukti secara ilmiah bahwa ekstrak ragi (brewer\\\’s yeast) yang mengandung vitamin B kompleks alami membantu meningkatkan kesehatan ibu menyusui, dan karenanya membantu produksi ASI. Sedikit unsur kimia mangan alami yang didapat dalam beras-berasan, gandum-gannduman, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran juga membantu proses menyusui.

Ibu menyusui biasanya cepat merasa haus. Karenanya ibu menyusui harus minum sebanyak mungkin: air, susu sapi, susu kedelai, jus buah segar, atau sup. Hindarilah minuman ringan, teh, atau kopi, seperti halnya ketika hamil. Namun demikian, tidak ada bukti ilmiah bahwa seorang ibu yang meminum susu akan membantu produksi ASI. Malahan, apabila ibu menyusui terlalu banyak mengkonsumsi produk susu dapat menyebabkan bayi terkena kolik.

Saat menyusui, minuman keras sebisa mungkin dihindari. Selain itu, merokok selama menyusui dapat membahayakan bayi dan mengurangi produksi susu. Penggunaan pil KB selama menyusui juga harus dihindari, sebab dampak jangka panjang hormon dalam pil masih belum diketahui. Combined pill juga diketahui mengurangi produksi susu. Namun, pil progesteron (progesterone only pill / low-dose pill) tidak mempengaruhi produksi susu, dan pada kasus khusus pil ini boleh digunakan (misalnya pada kasus ibu diabetes yang tidak boleh hamil). Namun, kebanyakan wanita sebaiknya enggunakan metode KB natural, kondom, atau IUD daripada menggunakan KB hormon (pil, suntik, susuk).

Untuk menu sehari-hari, ibu menyusui bisa berpegang pada pedoman 4 sehat 5 sempurna dan seimbang. Karena beberapa zat gizi mempunyai sifat saling mempengaruhi yang menguntungkan atau merugikan, maka sebaiknya dalam menyusun menu menggunakan aneka ragam bahan makanan. Ibu menyusui dapat makan apa saja, tak ada pantangan. Tapi merokok, minuman beralkohol, kopi, dan teh sebaiknya tidak disajikan karena kedua bahan tersebut berpengaruh negatif pada peresapan zat besi.

Ibu menyusui umumnya makan 6 kali sehari sesuai dengan frekuensi menyusui si bayi, karena setiap habis menyusui merasa lapar. Selain cukup makan, dianjurkan pula banyak minum minuman berkhasiat yang dapat mempengaruhi produksi ASI. Misalnya sayur dengan banyak kuah seperti sayur asem daun lembayung dan kacang-kacangan, jus buah, kacang hijau, bubur kacang hijau, sup kacang merah, susu fullcream atau nonfat/susu skim, susu kedele, minuman tradisional seperti beras kencur, asem kunyit.

Selama menyusui, seorang ibu membutuhkan kalori, protein, mineral, dan vitamin yang sangat tinggi. Mengingat ibu yang menyusui rata-rata memproduksi 800 ml ASI salam sehari, dengan kandungan kurang lebih 600 kalori, maka ibu menyusui perlu memperoleh tambahan makanan sebanyak 750 kalori/ hari. Agar kelenjar-kelenjar susu mampu mengeluarkan ASI, maka dibutuhkan tambahan lagi sebanyak 75 kalori/hari.
Untuk kebutuhan protein walaupun ASI sendiri susah mengandung 12% protein, ibu masih perlu menambahkan lagi dengan 25 gr protein/hari. Selain itu, karena ASI juga mengandung zat kapur (kalsium) yang diambil dari tubuh ibu, maka makanan ibu juga memerlukan tambahan zat kapur sebanyak 0,5 gr/hari. Ibu dapat memperolehnya melalui sumber makanan seperti susu, sayur-sayuran, dan ikan teri. Jangan lupa untuk menambahkan asupan tambahan zat besi sebanyak 5 mg.
Karena nilai vitamin yang terdapat dalam ASI sangat bergantung pada nilai vitamin dalam makanan ibu sehari-hari, maka ibu menyusui juga membutuhkan tambahan ekstra vitamin sebanyak 2500 IU Vitamin A, 0,4 mg Thiamin (Vitamin B1), dan 30 mg Vitamin C.

Kebutuhan makanan bagi ibu menyusui lebih banyak daripada makanan Ibu hamil.
Kegunaan makanan tersebut adalah :

  1. Memulihkan kondisi fisik setelah melahirkan.
  2. Meningkatkan Produksi ASI (Air Susu Ibu) yang cukup dan sehat untuk bayi.

Pengaturan Makanan

  1. Susunan hidangan sehari-hari harus seimbang, yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah serta susu.
  2. Makanan pokok tidak hanya nasi, gunakanlah beraneka bahan makanan pengganti seperti mie, jagung, kentang, ubi, roti dan sebagainya.
  3. Lauk-pauk gunakanlah dari jenis hewani dan jenis nabati, seperti telur, daging, ayam, ikan segar, hati, ikan asin, tempe, tahu, kacang-kacangan dan sebagainya.
  4. Sayuran lebih baik yang berwarna seperti bayam, kangkung, sawi, daun katuk, wortel, buncis dan sebagainya, karena sayuran tersebut dapat membantu merangsang pengeluaran/produksi ASI.
  5. Pilihlah buah-buahan yang berwarna seperti pepaya, jeruk, apel, tomat dan sebagainya yang banyak mengandung vitamin dan mineral.
  6. Perlu minum dalam jumlah lebih banyak + 6 gelas dalam satu hari, akan lebih bermanfaat bila ibu menyusui minum cairan “bergizi” seperti : susu, air kacang-kacangan, sari buah-buahan, air sayuran daun hijau dan sebagainya.
  7. Tidak disarankan minum jamu setelah melahirkan.
  1. Yang terpenting tidak ada pantangan makanan untukm ibu menyusui.
Nilai Gizi

Kalori : 3000
Protein : 100
Lemak : 87,45
H.A : 433
MAKANAN SAAT TIDAK HAMIL DAN 4 BLN PERTAMA KEHAMILAN 5 BULAN TERAKHIR KEHAMILAN MENYUSUI
Susu (sapi atau kedelai) 600ml 1200ml 1200ml
Protein hewani: daging matang, ikan, atau unggas) atau Protein Nabati:(biji-bijian, kacang-kacangan, produk susu, produk kedelai) 1 porsi 1-2 porsi 3 porsi atau lebih
Telur 1 butir 1 butir 1 butir
Buah dan Sayuran yang kaya Vit A (sayuran hijau atau kuning) brokoli, kailan, kangkung, caisim, labu, wortel, tomat 1 porsi 1 porsi 1 porsi
Buah dan Sayuran yang kaya Vit C: jeruk-jerukan, tauge, tomat, melon, pepaya, mangga, jambu 1-2porsi 2porsi 3porsi
Biji-bijian (beras merah, roti wholemeal, havermut, mie 3-4porsi 3-4porsi 3-4porsi
Mentega, margarine, minyak sayur gunakan secukupnya

 

 

 

Contoh Menu Sehari Untuk Ibu Menyusui

Pagi susu 1 gelas (200 cc)
Jam 08.00 nasi (100 gr), pecel sayuran (100 gram), semur daging (30 gram), tempe goreng atau bacem (50 gram).
Jam 11.00 sup kacang march segar (25 gram), ditambah ayam (15 gram), dan wortel (50 gram).
Jam 13.30 nasi (200 gram), pepes ikan (75 gram), daun singkong (25 gram), ayam panggang kalasan (50 gram), tahu bacem (50 gram), sayur bening daun katuk, oyong (150 gram) dan 100 gram buah sesuai musimnya.
Jam 16.00 slada buah (150 gram) atau rujak buah (150 gram), minum air kacang ijo.
Jam 19.00 Nasi (200 gram), sate ati ayam (50 gram), daging ayam (25 gram), tempe bumbu mangut (50 gram), cah aneka sayuran (100 gram), dan buah sesuai musimnya.
Jam 22.00 susu 1 gelas (200 cc)

 

Pembagian Makanan Sehari
Waktu Jenis Makanan Jumlah (gr) URT
Pagi Nasi 200 gls
Daging 50 1 ptg
Telur 50 1 btr
Tempe 50 1 ptg
Sayuran 100 1 gls
Minyak 10 1 sdm
Gula 10 1 sdm
10.00 Susu 200 1 gls
Gula 15 sdm
Siang Nasi 250 gls
Daging 50 1 ptg
Telur 50 1 btr
Tempe 50 1 ptg
Sayuran 100 1 gls
Minyak 15 sdm
Buah 100 1 bh
16.00 Kacang Hijau 25 2 sdm
Gula 15 sdm
Sore Nasi 250 gls
Daging 50 1 ptg
Telur 50 1 btr
Tempe 50 1 ptg
Sayuran 100 1 gls
Minyak 10 1 sdm
Buah 100 1 bh

 



{November 13, 2009}   Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!



et cetera